
| Judul | Asuransi Perhutanan Sosial: Mitigasi Risiko Iklim dan Model Pendanaan Kolaboratif bagi Masyarakat Perhutanan Sosial |
| Penulis | Rabin Ibnu Zainal; Rahpriyanto Alam Surya Putra; Hari Kusdaryanto; Such Ferdian Prabowo; Oke Indrayana Trianto; Zinedine Reza; Cindy Yubawa; Sinta Meilia |
| Penerbit | PT Semesta Infomedia Indonesia |
| Tebal | vi + 80 halaman |
| Tahun | 2026 |
| Harga | – |
BERITABARU PUBLISHING, Katalog—Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana yang mengancam keberlanjutan Perhutanan Sosial di Indonesia. Kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan berbagai gangguan ekologis tidak hanya mengancam fungsi hutan, tetapi juga mengguncang penghidupan jutaan masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut. Di tengah meningkatnya risiko tersebut, perlindungan terhadap masyarakat pengelola Perhutanan Sosial masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam aspek pembiayaan dan pengelolaan risiko.
Buku Asuransi Perhutanan Sosial: Mitigasi Risiko Iklim dan Model Pendanaan Kolaboratif bagi Masyarakat Perhutanan Sosial menawarkan kerangka konseptual mengenai pengembangan Asuransi Perhutanan Sosial (APS) sebagai instrumen perlindungan risiko yang dirancang sesuai dengan karakteristik Perhutanan Sosial di Indonesia. Buku ini menguraikan prinsip-prinsip dasar desain APS, tata kelola kelembagaan, serta berbagai tantangan implementasinya dalam konteks kebijakan kehutanan, manajemen risiko bencana, dan perlindungan sosial.
Salah satu gagasan utama yang ditawarkan adalah Conservation for Premium (C4P), yaitu pendekatan yang mengakui aktivitas konservasi masyarakat sebagai kontribusi ekonomi yang dapat dikonversi menjadi pembayaran premi secara in kind. Dengan demikian, berbagai praktik seperti patroli pencegahan kebakaran, penanaman pengayaan, pembangunan sekat bakar, pemeliharaan rorak, dan pengawasan terhadap pembalakan liar tidak hanya berkontribusi pada kelestarian hutan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem perlindungan risiko bagi masyarakat.
Untuk mendukung keberlanjutan skema tersebut, buku ini juga mengembangkan model blended green finance yang mengintegrasikan berbagai sumber pendanaan, mulai dari anggaran pemerintah, filantropi, donor, hingga komitmen sektor swasta melalui skema CSR dan ESG. Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas cakupan perlindungan sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal program.
Disusun sebagai referensi konseptual dan kebijakan, buku ini ditujukan bagi pembuat kebijakan, akademisi, praktisi kehutanan, industri asuransi, lembaga pendamping, serta para mitra pembangunan. Melalui buku ini, pembaca diajak melihat bahwa perlindungan terhadap masyarakat Perhutanan Sosial tidak semata-mata bergantung pada kompensasi pascabencana, tetapi dapat dibangun sejak awal melalui pengakuan atas kerja-kerja konservasi dan kolaborasi pendanaan yang berkeadilan. Dengan demikian, Asuransi Perhutanan Sosial diharapkan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan iklim, menjaga keberlanjutan hutan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menjadi penjaga terdepan ekosistem Indonesia.
